Kamis, 23 Desember 2010

Kisah Rasulullah Mengasihi Anak Yatim


Kisah ini terjadi di Madinah pada suatu pagi di hari raya Idul Fitri. Rasulullah saw seperti biasanya mengunjungi rumah demi rumah untuk mendo’akan para muslimin dan muslimah, mukminin dan mukminah agar merasa bahagia di hari raya itu.
Alhamdulillah, semua terlihat merasa gembira dan bahagia, terutama anak-anak. Mereka bermain sambil berlari-lari kesana kemari dengan mengenakan pakaian hari rayanya. Namun tiba-tiba Rasulullah saw melihat di sebuah sudut ada seorang gadis kecil sedang duduk bersedih. Ia memakai pakaian tambal-tambal dan sepatu yang telah usang.
Rasulullah saw lalu bergegas menghampirinya. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menangis tersedu-sedu.
Rasulullah saw kemudian meletakkan tangannya yang putih sewangi bunga mawar itu dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis kecil tersebut, lalu bertanya dengan suaranya yang lembut : “Anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?”


Gadis kecil itu terkejut. Tanpa berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil bercerita : “Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah saw. Ia bertarung bersama Rasulullah saw bahu-membahu dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?”

Setelah Rasulullah saw mendengar cerita itu, seketika hatinya diliputi kesedihan yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang ia membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata: “Anakku, hapuslah air matamu… Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu…. Apakah kamu ingin agar aku Rasulullah menjadi ayahmu? …. Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu…. dan Hasan dan Husein menjadi adik-adikmu dan Aisyah menjadi ibumu ?. Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?”
Begitu mendengar kata-kata itu, gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya.
Masya Allah! Benar, ia adalah Rasulullah saw, orang tempat ia baru saja mencurahkan kesedihannya dan menumpahkan segala gundah di hatinya. Gadis yatim kecil itu sangat tertarik pada tawaran Rasulullah saw, namun entah mengapa ia tidak bisa berkata sepatah katapun. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuannya. Gadis yatim kecil itu lalu bergandengan tangan dengan Rasulullah saw menuju ke rumah. Hatinya begitu diliputi kebahagiaan yang sulit untuk dilukiskan, karena ia diperbolehkan menggenggam tangan Rasulullah saw yang lembut seperti sutra itu.
Sesampainya di rumah, wajah dan kedua tangan gadis kecil itu lalu dibersihkan dan rambutnya disisir. Semua memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Gadis kecil itu lalu dipakaikan gaun yang indah dan diberikan makanan, juga uang saku untuk hari raya. Lalu ia diantar keluar, agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya. Anak-anak lain merasa iri pada gadis kecil dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri itu. Mereka merasa keheranan, lalu bertanya :
“Gadis kecil, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu terlihat sangat gembira?”
Sambil menunjukkan gaun baru dan uang sakunya gadis kecil itu menjawab :
“Akhirnya aku memiliki seorang ayah! Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya! Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang ayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, yang hatinya begitu mulia. Juga seorang kakak perempuan, namanya Fatima Az`Zahra. Ia menyisir rambutku dan mengenakanku gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia dan bangga memiliki adik adikku yang menyenangkan bernama Hasan dan Husein. , dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya.”
Rasulullah saw bersabda : ”Siapa yang memakaikan seorang anak pakaian yang indah dan mendandaninya pada hari raya, maka Allah SWT akan mendandani/menghiasinya pada hari Kiamat. Allah SWT mencintai terutama setiap rumah, yang di dalamnya memelihara anak yatim dan banyak membagi-bagikan hadiah. Barangsiapa yang memelihara anak yatim dan melindunginya, maka ia akan bersamaku di surga.”
Dalam kesempatan lain,Dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah bersabda :”Dan barangsiapa yang membelaikan tangannya pada kepala anak yatim di hari Assyura, maka Allah Ta’ala mengangkat derajat orang tersebut untuk untuk satu helai rambut satu derajat. Dan barangsiapa memberikan (makan dan minum) untuk berbuka bagi orang mukmin pada malam Asyuro, maka orang tersebut seperti memberikan makanan kepada seluruh umat Muhammad SAW dalamkeadaan kenyang semuanya.”— Al Hadis.
Ya Rasullullah, sungguh mulia ahlakmu, sungguh banyak anak2 yatim-mu, pantaslah engkau disebut Abul Yatama (Bapaknya anak-anak Yatim) di seluruh dunia dari dulu hingga akhir zaman.
Wahai para anak Yatim, sama halnya dengan gadis kecil dalam cerita di atas, Laa Tahzan, Janganlah kalian bersedih, justru berbanggalah kalian, karena Bapak kalian adalah Rasulullah saw, sang manusia suci, Kekasih Allah swt.
Allahumma shali ala Muhammad wa ali Muhammad…

Doa Untuk Tim Nasional Indonesia



Telah lama haus akan gelar
Telah lama rindu akan juara
Kini saatnya…..
Meraih semua mimpi
Mengembalikan citra bangsa
Yang selama ini terpuruk
Yang selama ini dipandang sebelah mata oleh Negara lain

Ayo Gonzales…. Bikin gol yang banyak
Ayo Irfan…. Buat pertahanan lawan kocar-kacir
Ayo Okto….Berlarilah terus tanpa lelah
Ayo Ridwan…Jangan takut dengan lawanmu
Ayo Firman…Berikan permainan terbaikmu
Ayo Maman….Jaga penyerang lawan mendekati gawangmu
Ayo Markus….Pertahankan gawangmu jangan sampai kebobolan
Ayo Timnas…Berjuanglah sampai titik darah penghabisan

Doa kami besertamu
Doa Ibu Pertiwi Menyertaimu
Doa Seluruh Rakyat Indonesia selalu untukmu
Buat kami bangga jadi orang Indonesia


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ditulis Oleh :


Wirahman Salsabil Husain
Siswa Kelas VI, SDN 32 Kota Selatan, Gorontalo



Rabu, 22 Desember 2010

Cindelaras

Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi, selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencanakan suatu yang buruk kepada permaisuri. "Seharusnya, akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri," pikirnya.
Selir baginda, berkomplot dengan seorang tabib istana. Ia berpura-pura sakit parah. Tabib istana segera dipanggil. Sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. "Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri," kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan. 

Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuhnya. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. "Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh," kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja menganggung puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri. 

Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur. "Hmm, rajawali itu baik sekali. Ia sengaja memberikan telur itu kepadaku." Setelah 3 minggu, telur itu menetas. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat. Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu sungguh menakjubkan! "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra..." 

Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. "Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku," tantangnya. "Baiklah," jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan. Ayamnya benar-benar tangguh. 

Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat. Raden Putra pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras. "Hamba menghadap paduka," kata Cindelaras dengan santun. "Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata," pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.
Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. "Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?" Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...," ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. "Benarkah itu?" Tanya baginda keheranan. "Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda." 

Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. "Aku telah melakukan kesalahan," kata Baginda Raden Putra. "Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku," lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.

Anak Rajin dan Pohon Pengetahuan

Pada suatu waktu, hiduplah seorang anak yang rajin belajar. Mogu namanya. Usianya 7 tahun. Sehari-hari ia berladang. Juga mencari kayu bakar di hutan. Hidupnya sebatang kara. Mogu amat rajin membaca. Semua buku habis dilahapnya. Ia rindu akan pengetahuan.

Suatu hari ia tersesat di hutan. Hari sudah gelap. Akhirnya Mogu memutuskan untuk bermalam di hutan. Ia bersandar di pohon dan jatuh tertidur.

Dalam tidurnya, samar-samar Mogu mendengar suara memanggilnya. Mula-mula ia berpikir itu hanya mimpi. Namun, di saat ia terbangun, suara itu masih memanggilnya. "Anak muda, bangunlah! Siapakah engkau? Mengapa kau ada disini?" Mogu amat bingung. Darimana suara itu berasal? Ia mencoba melihat ke sekeliling. "Aku disini. Aku pohon yang kau sandari!" ujar suara itu lagi.

Seketika Mogu menengok. Alangkah terkejutnya ia! Pohon yang disandarinya ternyata memiliki wajah di batangnya.

"Jangan takut! Aku bukan makhluk jahat. Aku Tule, pohon pengetahuan. Nah, perkenalkan dirimu," ujar pohon itu lagi lembut. 

"Aku Mogu. Pencari kayu bakar. Aku tersesat, jadi terpaksa bermalam disini," jawab Mogu takut-takut.

"Nak, apakah kau tertarik pada ilmu pengetahuan? Apa kau bisa menyebutkan kegunaannya bagimu?" tanya pohon itu. 

"Oh, ya ya, aku sangat tertarik pada ilmu pengetahuan. Aku jadi tahu banyak hal. Aku tak mudah dibodohi dan pengetahuanku kelak akan sangat berguna bagi siapa saja. Sayangnya, sumber pengetahuan di desaku amat sedikit. Sedangkan kalau harus ke kota akan membutuhkan biaya yang besar. Aku ingin sekali menambah ilmuku tapi tak tahu bagaimana caranya."

"Dengarlah, Nak. Aku adalah pohon pengetahuan. Banyak sekali orang mencariku, namun tak berhasil menemukan. Hanya orang yang berjiwa bersih dan betul-betul haus akan pengetahuan yang dapat menemukanku. Kau telah lolos dari persyaratan itu. Aku akan mengajarimu berbagai pengetahuan. Bersediakah kau?" tanya si pohon lagi. Mendengar hal itu Mogu sangat girang.

Sejak hari itu Mogu belajar pada pohon pengetahuan. Hari-hari berlalu dengan cepat. Mogu tumbuh menjadi pemuda yang tampan. Pengetahuannya amat luas. Suatu hari pohon itu berkata, "Mogu, kini pergilah mengembara. Carilah pengalaman yang banyak. Gunakanlah pengetahuan yang kau miliki untuk membantumu. Jika ada kesulitan, kau boleh datang padaku."

Mogu pun mengembara ke desa-desa. Ia memakai pengetahuannya untuk membantu orang. Memperbaiki irigasi, mengajar anak-anak membaca dan menulis... Akhirnya Mogu tiba di ibukota. Di sana ia mengikuti ujian negara. Mogu berhasil lulus dengan peringkat terbaik sepanjang abad. Raja amat kagum akan kepintarannya. 

Namun, ada pejabat lama yang iri terhadapnya. Pejabat Monda ini tidak senang Mogu mendapat perhatian lebih dari raja. Maka ia mencari siasat supaya Mogu tampak bodoh di hadapan raja. "Tuan, Mogu. Hari ini hamba ingin mengajukan pertanyaan. Anda harus dapat menjawabnya sekarang juga di hadapam Baginda," kata pejabat Monda.

"Silakan Tuan Monda. Hamba mendengarakan," jawab Mogu.

"Berapakah ukuran tinggi tubuhku?" tanyanya.

"Kalau hamba tak salah, tinggi badan anda sama panjang dengan ujung jari anda yang kiri sampai ujung jari anda yang kanan bila dirintangkan," jawab Mogu tersenyum. Pejabat Monda dan raja tidak percaya. Mereka menyuruh seseorang mengukurnya. Ternyata jawaban Mogu benar. Raja kagum dibuatnya.

Pejabat Monda sangat kesal, namun ia belum menyerah. "Tuan Mogu. Buatlah api tanpa menggunakan pemantik api."
Dengan tenang Mogu mengeluarkan kaca cembung, lalu mengumpulkan setumpuk daun kering. Ia membuat api, menggunakan kaca yang dipantul-pantulkan ke sinar matahari. Tak lama kemudian daun kering itupun terbakar api. Raja semakin kagum. Sementara Tuan Monda semakin kesal.

"Luar biasa! Baiklah! Aku punya satu pertanyaan untukmu. Aku pernah mendengar tentang pohon pengetahuan. Jika pengetahuanmu luas, kau pasti tahu dimana letak pohon itu. Bawalah aku ke sana," ujar Raja.
Mogu ragu. Setelah berpikir sejenak, "Hamba tahu, Baginda. Tapi tidak boleh sembarang orang boleh menemuinya. Sebenarnya, pohon itu adalah guru hamba. Hamba bersedia mengantarkan Baginda. Tapi kita pergi berdua saja dengan berpakaian rakyat biasa. Setelah bertemu dengannya, berjanjilah Baginda takkan memberitahukanya pada siapapun," ujar Mogu serius.

Raja menyanggupi. Setelah menempuh perjalanan jauh, sampailah mereka di tujuan. "Salam, Baginda. Ada keperluan apa hingga Baginda datang menemui hamba?" sapa pohon dengan tenang. 

"Aku ingin menjadi muridmu juga. Aku ingin menjadi raja yang paling bijaksana," kata raja kepada pohon pengetahuan.

"Anda sudah cukup bijaksana. Dengarkanlah suara hati rakyat. Pahamilah perasaan mereka. Lakukan yang terbaik untuk rakyat anda. Janganlah mudah berprasangka. Selebihnya muridku akan membantumu. Waktuku sudah hampir habis. Sayang sekali pertemuan kita begitu singkat," ujar pohon pengetahuan seolah tahu ajalnya sudah dekat. 

Tiba-tiba Monda menyeruak bersama sejumlah pasukan. "Kau harus ajarkan aku!" teriaknya pada pohon pengetahuan. 

"Tidak bisa. Kau tak punya hati yang bersih."
Jawaban pohon itu membuat Monda marah. Ia memerintahkan pasukannya untuk membakar pohon pengetahuan. Raja dan Mogu berusaha menghalangi namun mereka kewalahan. Walau berhasil menghancurkan pohon pengetahuan, Monda dan pengikutnya tak luput dari hukuman. Mereka tiba-tiba tewas tersambar petir. Sebelum meninggal, pohon pengetahuan memberikan Mogu sebuah buku. Dengan buku itu Mogu semakin bijaksana. Bertahun-tahun kemudian, Raja mengangkat Mogu menjadi raja baru.

Bulan Yang Iri Hati

Langit ditaburi bintang dan bulan yang bersinar indah. Senang sekali rasanya melihat keindahan malam dari ketinggian. Alam di bawah tampak sunyi. Hampir di setiap beranda rumah, tampak orang duduk-duduk. Mereka memandang ke langit. 

Bulan merasa senang, lalu katanya kepada bintang-bintang,"Lihat, teman-teman. Mereka mengagumiku." "Mengagumimu? Belum tentu. Mungkin mereka mengagumi kami," kata sebuah bintang. "Tapi dari bawah, aku kelihatan lebih besar dan indah!" sahut Bulan. "Huh, sombong!" sungut sebuah bintang pada teman-temannya. 

"Dia boleh saja sombong. Tapi, dia tak kan dapat mengalahkan Matahari," kata bintang yang lain. "Apa?" sahut Bulan terkejut. "Ya, kau tak bisa mengalahkan Matahari. Karena Matahari lebih banyak penggemarnya. Pagi hari, saat Matahari terbit, orang-orang ingin menyaksikannya. Waktu Matahari naik, orang-orang berjemur untuk kesehatan. Selain disukai, Matahari pun disegani. Walaupun ia bersinar terik, orang-orang tidak mengumpat. Mereka hanya mencari tempat yang teduh. Matahari mempunyai jasa yang besar, mengeringkan jutaan pakaian yang dicuci orang. Terus terang, kami pun lebih menyukai Matahari karena ia hebat," kata sebuah bintang. 

"Tidak sombong lagi!" sahut bintang yang lain. Bulan diam. Ia sangat kesal. Betulkah Matahari sehebat itu? Sepanjang malam ia tak bisa tenang. Ia terus berpikir bagaimana mengalahkan Matahari. Akhirnya Bulan mendapat akal. Pagi datang. Matahari segera menghampiri bulan. 

"Selamat pagi, Bulan. Sudah saatnya aku bekerja. Sekarang kau boleh beristirahat." "Tidak!" "Lo, kenapa?" tanya Matahari heran. "Aku pun ingin bekerja pada siang hari," sahut Bulan. "Bulan, siang hari akulah yang bertugas. Kau harus beristirahat supaya bisa tampil segara malam nanti," kata Matahari. "Tidak! Sebenarnya aku ingin bertarung denganmu," kata Bulan. "Bertarung? Bertarung bagaimana?" Matahari makin bingung. "Bintang-bintang mengatakan kau lebih hebat dariku. Aku ingin lihat, apa benar kau lebih hebat?" "Bagaimana caranya?" tanya Matahari. 

"Aku akan tetap tinggal di sini bersamamu. Lalu kita lihat, siapa yang lebih disukai orang-orang," kata Bulan. "Ha ha ha," Matahari tertawa geli. "Bulan, di pagi hari kau tak kan terlihat. Sinarku lebih kuat dari sinarmu. Jadi apa gunanya?" 

Bulan tidak peduli. Ia ingin tetap tinggal bersama Mathari. Tetapi, kemudian ia kecewa. Sepanjang hari ia di sana, tak seorang pun menyapanya. Mereka hanya menyapa Matahari. "Hu hu, tak seorang pun menyukaiku. Bintang-bintang benar, Matahari lebih hebat dariku," Bulan menangis sedih. 

"Benar 'kan Matahari lebih hebat," kata bintang-bintang yang mengelilinginya. 

"sekarang beristirahatlah, Bulan. Malam segera tiba." "Tidak, aku tidak mau! Tak seorang pun menyukaiku. Apa gunanya aku ada di sana?" sahut Bulan sedih. "Bulan, dengarlah! Matahari itu tak sehebat yang kau kira. Tapi, kami senang pada Matahari. Karena ia tidak sombong. Kami pun senang padamu, asalkan kau tak sombong. Sebenarnya kau dan Matahari tak bisa dibandingkan. Masing-masing punya kelebihan. Sudahlah, jangan menangis lagi," hibur sebuah Bintang pada Bulan. 

Bulan berhenti menangis. Benar apa yang dikatakan Bintang. Ia tak boleh sombong. "Bulan, coba lihat!" kata sebuah bintang. Di bawah, sekelompok anak melambai-lambaikan tangan. "Ya, mereka menginginkan kau menerangi tempat itu. "Tapi uaaaah...." Bulan menguap. "Bulan mengantuk karena sepanjang siang tidak tidur. Biarlah untuk malam ini ia istirahat," kata bintang-bintang. 

Malam itu Bulan tidak bekerja. Ia tertidur dengan nyenyak. Biarlah malam itu langit tak dihiasi Bulan. Yang penting, Bulan telah menyadari kesalahannya. Ia tak lagi sombong dan tetap hadir setiap malam.

Ramlah binti Abu Sufyan: Keteguhan Menghadapi Tirani Kekafiran

Shahabiyah ini bernama lengkap Ramlah binti Abu Sufyan Shakhar bin Harb bin Umayyah, pemimpin Makkah. Ibunya adalah Shafiyah bin Abu Al-‘Ash Al-Umawiyah, saudari kandung Utsman bin Abu Al-Ash, orangtua dari Utsman bin Affan. Sedangkan suaminya adalah Ubaidillah bin Jahsy Al-Asadi, anak laki-laki bibi Nabi Muhammad Saw, dan saudara dari Ummul Mukminin Zainab bin Jahsy.

Ramlah dilahirkan tujuh belas tahun sebelum diutusnya Rasulullah. Wanita yang masuk Islam bersama dengan suaminya ini termasuk salah satu wanita tangguh yang memiliki sejumlah sikap heroik dan patriotik.


Keteguhan dalam Memeluk Islam

Dikisahkan bahwa setelah Ramlah binti Abu Sufyan mendengar tentang Islam, dia langsung menyatakan diri memeluk Islam, terutama setelah mengetahui bahwa agama baru itu menyuruh manusia untuk menyembah Allah semata, meninggalkan peribadatan berhala, menganjurkan untuk berakhlak baik dan terpuji, serta menjauhi berbagai bentuk kemungkaran. Ramlah meyakini bahwa hanya Islamlah agama yang baik.

Karena itu, dia bergegas masuk Islam, dan tidak takut kepada ayahnya, Abu Sufyan, yang pada saat itu menjadi pemimpin Makkah dan juga pemimpin Bani Umayyah. Terbukti, setelah berita masuk Islamnya sampai kepada sang ayah yang merupakan pemimpin kaum musyrik, dia tetap tegar dan kokoh pada pendiriannya.

Mendengar berita keislamannya putrinya, Abu Sufyan marah besar. Ini mengingat, tidak pernah terlintas di benaknya akan ada seseorang dari suku Quraisy yang keluar dari kekuasaannya dan menentang perintahnya. Jelas, keislaman putrinya, Ramlah, sangat mengusik kekuasaan Abu Sufyan. Ramlah benar-benar memiliki sikap patriotik luar biasa yang dicatat oleh sejarah. Betapa tidak, dia begitu teguh menghadapi tirani kekafiran yang direfleksikan dalam diri sang ayah. Ramlah dengan terang-terangan ingkar kepada tuhan-tuhan ayahnya, tuhan-tuhan yang selamanya tidak akan pernah mendatangkan manfaat dan tidak pula bisa menolak bahaya. Ramlah dengan kokohnya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tak ayal, Abu Sufyan berusaha dengan segala cara untuk bisa mengembalikan putrinya itu kepada agama nenek moyangnya. Namun usahanya itu sia-sia, karena sang putri tetap kokoh pada akidah tauhid. Abu Sufyan pun merasa malu dan bersembunyi dari kaumnya. Dia tidak tahu lagi bagaimana menghadapi cemoohan orang-orang Quraisy yang disebabkan keislaman Ramlah.

Maka orang-orang musyrik melakukan konspirasi untuk menghadapi Ramlah dan suaminya, setelah mendapatkan ‘restu’ dari Abu Sufyan. Mereka mempersempit ruang gerak Ramlah dan suaminya, hingga keduanya lari dari bumi Makkah, dan berangkat menuju Habasyah. Keduanya pun menetap di Habasyah. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan takdirnya. Allah berketetapan untuk memberikan ujian berat kepada Ramlah, untuk menguji kekuatan iman dan ketetapan hatinya.

Berbagai ujian dan cobaan dilalui Ramlah di Habasyah, dan dia tetap dalam keimanannya, beribadah kepada Allah, mendidik anaknya dalam koridor ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak seperti Ramlah yang kokoh dan tegar, Ubaidillah bin Jahsy (suaminya) justru menjadi ragu-ragu, dan sering kedapatan duduk bareng dengan para pendeta Nasrani.

Pada suatu malam, Ramlah bermimpi bahwa suaminya terjatuh ke dalam lautan yang dalam dan gelap. Sehingga keadaannya suaminya menjadi sangat buruk. Kemudian dia pun bangun dari tidurnya dengan perasaan takut dan cemas. Ramlah menemui suaminya dan memberitahukan kepadanya mengenai mimpi itu. Suaminya lantas berkata, “Aku melihat agama itu (Nasrani), dan aku tidak melihat suatu agama yang lebih baik daripada agama Nasrani. Karena itu, aku menganut agama itu. Kemudian aku masuk ke dalam agama Muhammad, dan aku kembali lagi ke agama Nasrani.”

Ramlah kemudian berusaha mengembalikan suami ke agama Islam, namun suaminya menolak. Hal ini menjadi ujian dan cobaan terberat baginya. Bahkan suaminya mencoba mengajak Ramlah untuk memeluk agama Nasrani. Akan tetapi Ramlah bersikap layaknya seorang patriot dan tetap bertahan di dalam Islam yang telah melapangkan dada dan menyinari akalnya. Ubaidillah kemudian memberi dua pilihan kepada Ramlah; memeluk agama Nasrani atau diceraikan. Bagi Ramlah dua pilihan itu menjelma menjadi tiga pilihan, yaitu antara menemui seruan suaminya, atau diceraikan, atau kembali kepada ayahnya yang masih kafir, lalu tinggal di rumahnya dalam keadaan terpaksa dan ditekan, atau tetap bermukim di negeri Habasyah sendirian, tanpa keluarga.

Ramlah menjauh dari orang-orang dan duduk menyendiri memikirkan apa yang harus dilakukan. Hingga akhirnya, keteguhan imannya memutuskan untuk tetap tinggal di Habasyah. Dia pasrah dan menyerahkan segala urusannya hanya kepada Allah. Demikianlah, seandainya bukan karena keimanan dan ketawakalannya yang kuat kepada Allah, niscaya dia tidak mampu menghadapi ujian serta guncangan yang berat itu. Dalam keadaan itulah Ramlah kemudian mendengar kabar kematian suaminya yang meregang nyawa disebabkan minuman keras (khamr). Namun sekali lagi, dia tetap bersabar menghadapi kabar duka itu.


Bertemu Kembali dengan Sang Ayah

Hari demi hari dilalui Ramlah di negeri Habasyah dengan penuh kesabaran dan ketabahan menghadapi berbagai macam kesulitan hidup, hingga akhirnya Allah memberinya jalan keluar dari segenap ujian itu. Karena sesungguhnya setelah kesulitan pasti datang kemudahan, dan setiap masalah pasti akan ada jalan keluar dan jalan menuju kebahagiaan, selama berpegang teguh kepada Islam.
Diceritakan bahwa Rasulullah mengutus seseorang untuk melamarkan Ramlah bagi beliau. Dengan demikian, Ramlah mendapatkan kemuliaan sangat besar, karena menjadi Ummul Mukminin. Hal tersebut merupakan balasan keimanan dan kesabarannya, serta keteguhan hatinya.

Ummul Mukminin Ramlah kemudian kembali ke Madinah, dan hampir seluruh penduduknya menyambut hangat kedatangan anak perempuan Abu Sufyan itu. Dia lalu tinggal bersama Rasulullah dan memulai kehidupan bersama beliau dalam keadaan yang lebih baik dari kehidupan sebelumnya.
Ketika orang-orang Quraisy melanggar perjanjian yang ditetapkan bersama Rasulullah, Abu Sufyan datang untuk memperbarui dan mengokohkan perjanjian itu. Abu Sufyan lalu menemui putrinya, Ramlah, di dalam rumah. Ketika Abu Sufyan hendak duduk di atas dipan Rasulullah, dengan tanggap Ramlah melakoni sikap patriotik di hadapan ayahnya, dan menyingkirkan dipan beliau agar tidak diduduki sang ayah.

Sikap tersebut menjadi teladan baik bagi kaum beriman untuk senantiasa membela Rasulullah, dan barra` (berlepas diri) dari orang-orang kafir, meski mereka adalah orangtua dan saudara. Ramlah menyadari bahwa ayahnya masih kafir, sehingga dia tidak membolehkannya duduk di tempat Rasulullah. Tak lama setelah kejadian tersebut, Abu Sufyan kemudian masuk Islam. Betapa senang dan gembira hati Ramlah, setelah menjalani kehidupan yang sulit, dia kemudian mendapatkan beberapa kebahagiaan.

Sikap Ramlah menghadapi cobaan yang menimpanya bisa dijadikan contoh baik bagi setiap muslim dan muslimah. Kedalaman keimanan kepada Allah membuatnya mampu bersabar dalam keadaan susah dan tetap berpegang teguh kepada prinsip.


Asal Mula Batu Lahilote

Alkisah, di Tanah U Duluo lo`u Limo lo Pohite, Gorontalo, ada seorang pemuda tampan dan gagah bernama Piilu Le Lahilote, yang akrab dipanggil Lahilote. Ia tinggal seorang diri di sebuah rumah kecil di pinggir hutan. Ia pemuda yang tekun, pekerja keras, dan memiliki angan-angan yang tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, setiap hari ia moleleyangi (mengembara masuk keluar hutan) berburu binatang.
Suatu hari, ketika hendak beristirahat di tepi telaga di tengah hutan, Lahilote mendengar suara gadis-gadis yang sedang ramai bercanda.
“Hai, suara siapa itu? Dari mana sumber suara itu?” tanya Lahilote dalam hati.
Lahilote pun segera mencari sumber suara itu. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa sumber suara tersebut berasal dari telaga itu. Ia kemudian bersembunyi di balik sebuah pohon besar, lalu mengintip untuk memeriksa keadaan. Ia tersentak kaget melihat tujuh gadis cantik sedang asyik mandi dan bersenda gurau di telaga itu. Ia mengawasi setiap gerak-gerik mereka tanpa berkedip sedikit pun. Rupanya, pemuda tampan itu terpesona melihat kecantikan para gadis tersebut.
Mulanya, Lahilote mengira ketujuh gadis itu penduduk bumi. Namun, setelah melihat tumpukan pakaian dan sayap yang berada di tepi telaga, barulah ia sadar bahwa ternyata mereka adalah Putri lo Owabu (putri kahyangan/bidadari). Karena terposana melihat kecantikan para bidadari tersebut, maka timbullah niatnya untuk menahan salah seorang dari mereka untuk dijadikan istri. Dengan kesaktiannya, ia segera mengubah wujudnya menjadi seekor ayam hutan jantan. Kemudian ia berjalan mendekati tempat tumpukan pakaian dan sayap itu sambil mengais-ngaiskan kakinya di tanah. Pada saat ketujuh putri kahyangan tersebut menyelam, dengan cepat Lahilote mengambil salah satu dari tujuh sayap tersebut, lalu membawanya pulang dan menyembunyikannya di lumbung padi yang berada di kolong rumahnya.
Setelah itu, Lahilote bergegas kembali ke telaga. Setibanya di sana, ia mendapati ketujuh bidadari tersebut sedang berkemas-kemas. Satu persatu mereka mengenakan pakaian masing-masing. Betapa terkejutnya salah satu dari bidadari itu ketika mengetahui sayapnya tidak ada di tempatnya. Rupanya, bidadari yang kehilangan sayap itu adalah bidadari yang paling bungsu.
“Kak! Apakah kalian melihat sayap Adik?” tanya bidadari bungsu.
“Tidak, Dik!” jawab keenam kakaknya serentak.
“Tadi Adik meletakkannya di mana?” tanya bidadari sulung.
“Adik meletakkannya di atas batu ini bersama pakaian Kakak,” jawab bidadari bungsu dengan bingung.
Sementara bidadari bungsu sedang kebingungan mencari sayapnya, keenam kakaknya telah bersiap-siap terbang menuju Kahyangan karena hari sudah semakin sore.
“Bungsu! Kami harus meninggalkanmu sendirian di sini!” ujar si sulung seraya terbang ke angkasa bersama keempat adiknya yang lain.
“Bagaimana dengan nasib Adik, Kak?” teriak si bungsu mengiba.
“Maafkan kami, Dik! Kami tidak bisa membantumu. Jagalah dirimu baik-baik!” seru putri sulung.
Si Bungsu hanya bisa berdiri terpaku memandangi keenam kakaknya yang terbang ke angkasa. Ketika mereka menghilang dari pandangannya, ia pun menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya.
“Ayah.... Ibu...! Tolonglah aku! Aku tidak mau tinggal sendirian di sini,” keluh si Bungsu.
Sementara itu, Lahilote yang melihat si Bungsu bersedih segera keluar dari persembunyiannya, lalu menghampirinya.
“Hai, gadis cantik! Siapa namamu? Kenapa kamu bersedih dan menangis?” tanya Lahilote seolah-olah tidak mengetahui peristiwa yang menimpa bidadari itu.
Gadis cantik itu tidak menjawab. Ia terus menangis tersedu-sedu. Ia baru berhenti menangis setelah Lahilote membujuk dan merayunya berkali-kali.
“Nama saya  Boilode Hulawa dari Negeri Kahyangan,” kata bidadari itu memperkenalkan diri.
Begitu pula sebaliknya, Lahilote memperkenalkan diri kepada Boilode Hulawa, lalu kembali menghiburnya.
“Wahai, Boilode Hulawa! Dinda tidak perlu bersedih hati tinggal di bumi ini. Kanda akan menolong Dinda,” hibur Lahilote.
“Tapi, Kanda! Dinda tidak mempunyai sanak saudara dan keluarga di negeri ini,” kata bidadari bungsu itu dengan hati sedih.
“Tenanglah! Dinda tidak usah khawatir! Dinda boleh tinggal bersama Kanda di rumah Kanda,” bujuk Lahilote.
Mendengar bujukan itu, hati Putri Boilode Hulawa yang tadi sedih berubah menjadi senang dan gembira. Lahilote pun mengajak Putri Boilode Hulawa ke rumahnya. Selang beberapa lama tinggal bersama, Lahilote menyampaikan keinginannya untuk menikahi putri kahyangan itu.
“Dinda! Maukah Dinda menikah dengan Kanda?” bujuk Lahilote.
Putri Boilode tersenyum, lalu menjawab:
“Wahai Kanda! Dinda tidak mempunyai alasan untuk menolak keinginan Kanda. Kepada siapa lagi Dinda harus menggantungkan nasib di negeri ini selain kepada Kanda,” jawab Putri Boilode menerima lamaran Lahilote.
Akhirnya, Lahilote dan Putri Boilode pun menikah. Mereka hidup rukun dan damai. Sejak itu, Lahilote semakin rajin bekerja. Ia tidak hanya berburu, tapi juga bercocok tanam. Sementara Boilode Hulawa sibuk mengurus pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah.
Setahun kemudian, Boilode mulai merasa bosan dan capek melakukan pekerjaan-pekerjaan berat tersebut. Ia baru merasakan betapa beratnya hidup di dunia karena harus bekerja keras untuk mencari nafkah. Namun, dengan kesaktiannya, ia dapat memasak sebutir beras yang mampu mencukupi makan mereka berdua dalam satu hari. Dengan begitu, ia bisa menghemat tenaga dan makanan. Tapi, hal itu tidak boleh diketahui suaminya agar kesaktiannya tidak hilang.
Suatu hari, Lahilote melihat ada sesuatu yang aneh pada istrinya. Ia berpikir, sudah beberapa bulan istrinya memasak nasi untuknya, tapi padi di lumbung tidak pernah berkurang. Ia juga tidak pernah melihat istrinya menumbuk padi sebagaimana yang dilakukan oleh orang lain. Oleh karena itu, timbullah niatnya untuk mengawasi perilaku sehari-hari istrinya. Ia yakin bahwa istrinya sedang merahasiakan sesuatu kepadanya.
Keesokan harinya, Lahilote berpura-pura berpamitan kepada istrinya untuk pergi ke kebun. Tanpa curiga sedikit pun, Boilode Huwala segera memasak satu butir beras dalam periuk dan menutupinya rapat-rapat. Sambil menunggu nasi itu masak, ia pergi ke sumur mencuci pakaian. Pada saat itulah, Lahilote yang bersembunyi di balik sebuah pohon besar di belakang rumahnya segera menyelinap masuk ke dapur. Betapa terkejutnya ia ketika membuka tutup periku itu. Ia melihat isi periuk itu hanya sebutir beras.
“Oh, pantas saja padi di lumbung tidak pernah berkurang, setiap hari istriku hanya memasak sebutir beras. Tapi, mengapa dia merahasiakan hal itu kepadaku?” pikirnya seraya meninggalkan dapur.
Tak berapa lama kemudian, Boilode kembali dari sumur. Alangkah terkejutnya ia ketika masuk ke dapur memeriksa isi periuknya.
“Waduh, celaka! Kenapa berasnya masih tetap sebutir? Apakah suamiku telah melihat isi periuk ini?” pikirnya.
Setelah Putri Boilode Hulawa membiarkannya beberapa saat di atas tungku, beras itu tetap tidak berubah. Melihat hal itu, seluruh tubuhnya menjadi lemas dan tidak bergairah. Ia hanya bisa duduk termenung menyesali nasibnya karena rahasianya terbongkar. Dengan demikian, ia harus kembali bekerja keras.
Sejak itu, Putri Boilode harus menumbuk padi setiap hari untuk dimasak. Semakin hari padi dalam lumbung mereka pun semakin berkurang. Setahun kemudian, persediaan padi di lumbung mereka habis. Pada saat akan mengambil padi yang terakhir untuk ditumbuk, ia melihat sebuah benda di bawah lapisan lumbung itu.
“Hei, benda apa itu? Sepertinya aku pernah melihatnya?” gumam Putri Boilode.
Setelah memeriksa dan mengamati benda itu dengan seksama, Boilode tersentak kaget. Rupanya, benda itu tidak lain adalah sayapnya yang telah lama hilang. Melihat sayap itu, maka tahulah ia bahwa suaminyalah yang telah mengambil sayapnya. Ia tidak dapat lagi menyembunyikan kegembiraannya. Keinginannya untuk kembali ke negerinya pun semakin meluap-luap. Namun, ketika mengambil sayap itu hatinya kembali bersedih, karena beberapa bagian sayapnya sudah sobek.
“Wah, sayap ini perlu dijahit. Tapi, bagaimana caranya agar tidak ketahuan suamiku?” kata Boilode dengan bingung.
Setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan sebuah cara. Ia akan berpura-pura mual dan mengaku hamil di hadapan suaminya. Dengan begitu, Lahilote pasti akan merasa senang dan bahagia, dan akan memenuhi segala keinginan istrinya.
Keesokan harinya, Boilode berpura-pura sedang mual dan ingin sekali makan ikan laut.
“Kanda! Perut Dinda terasa mual. Dinda ingin sekali makan ikan laut. Maukah Kanda pergi mencarikannya?” pinta Boilode dengan pura-pura.
Tanpa curiga sedikit pun dan dengan senang hati, Lahilote pun segera berangkat ke laut untuk memenuhi permitaan Boilode. Setelah suaminya pergi, ia segera menjahit bagian-bagian sayapnya yang sobek. Akhirnya, berkat usaha dan ketekunannya, sayapnya pun kembali seperti semula dan dapat digunakan untuk kembali ke negerinya. Sebelum terbang ke Kahyangan, ia berpesan kepada lumbung padi milik suaminya.
“Wahai, Lumbung Padi! Jika suamiku telah kembali dari laut dan menanyakan diriku, tolong jangan engkau beritahu dia bahwa aku sudah menemukan sayapku. Jangan pula engkau beritahu dia bahwa aku telah kembali ke negeriku,” ujar Boilode.
Setelah itu, Boilode juga berpesan kepada pintu, jendela, dapur, belanga, dan semua perabot tanggan lainnya dengan pesan yang sama, yaitu agar mereka merahasiakan kepergiannya kepada Lahilote. Selain itu, ia juga berpesan kepada tetumbuhan, rerumputan, dan pepohonan dengan pesan yang sama. Hanya kepada pohon Hutia Mala (rotan) ia tidak berpesan, karena  menurut cerita, Hutia Mala adalah satu-satunya pohon yang tidak mau dipengaruhi oleh siapa pun. Ia akan selalu jujur dan berkata sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.
Setelah itu, Boilode Hulawa pun terbang ke angkasa. Sebelum sampai ke angkasa, terlebih dahulu ia melihat keadaan suaminya yang sedang mencari ikan di laut. Dari udara, ia melihat suaminya sedang beristirahat dan tidur terlentang di pantai. Ia pun meludahi suaminya dengan luwa la pomama (air sirih pinang) dan tepat mengenai dadanya. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan menuju ke pintu langit. Sementara itu, Lahilote segera terbangun begitu merasakan ada air hangat di atas dadanya. Setelah mengamati dan mencium bau air luwa lo pomama itu, ia yakin bahwa luwa itu keluar dari mulut istrinya.
“Wah, jangan-jangan istriku telah menemukan sayapnya?” pikirnya.
Tanpa berpikir panjang, Lahilote segera berlari kembali ke rumahnya dan memeriksa lumbung padinya. Ternyata dugaannya benar, sayap itu tidak ada lagi di tempatnya. Mengetahui hal itu, lemaslah sekujur tubuhnya. Untuk memantapkan keyakinannya, ia segera mencari keterangan dengan menanyai semua yang ada di sekitarnya, namun tak satu pun yang mau memberitahukan keberadaan istrinya. Meski demikian, ia tidak mau putus asa. Ia terus berusaha mencari keterangan ke sana kemari tanpa kenal lelah.
Setelah berhari-hari berjalan keluar masuk hutan, akhirnya Lahilote bertemu dengan Hutia Mala dan mengetahui bahwa istrinya telah kembali ke Kahyangan. Lahilote kemudian meminta pertolongan kepada Hutia Mala agar mengantarnya ke Kahyangan. Pohon ajaib itu bersedia menolongnya, tapi Lahilote harus memenuhi beberapa persyaratan  yaitu: pomala-malabi`u ode Pakusina, wau Dakusina, ode Masariku, wawu Magaribu (besedia dihempaskan ke negeri Palestina, ke Damaskus, ke Timur, ke Barat, dan ke seluruh alam empat penjuru); mencari seekor kucing kecintaan nabi untuk ditugaskan menjaga batang Hutia Mala agar tidak dimakan tikus; dan menyediakan tujuh buah kelapa yang kulitnya keras bila dikupas (bongo pi`ita) untuk makanan kucing tersebut.
Tanpa berpikir panjang, Lahilote menyanggupi persyaratan tersebut. Setelah menyiapkan segala persyaratan itu, ia pun segera memanjat pohon Hutia Mala. Ketika berada di atas pohon, ia dihempaskan secepat kilat ke seluruh penjuru arah mata angin. Betapa ngeri perasaan Lahilote melalui ujian tersebut. Ia berpegang sekuat tenaga agar tubuhnya tidak terlempar. Setelah Hutia Mala berdiri tegak dan diam, Lahilote pun melanjutkan perjalanan menuju Negeri Kahyangan. Kedatangannya pun langsung diketahui oleh Boilode Hulawa dan saudara-saudaranya. Namun, Boilode Hulawa berpura-pura tidak mengenal suaminya. Sementara Lahilote kebingungan mengenali istrinya di antara tujuh wanita cantik yang ada di hadapannya, karena paras dan kecantikan mereka sama persis sehingga sulit untuk membedakannya.
Lahilote semakin bingung karena perutnya terasa sangat lapar. Ia akan mati kelaparan jika tidak diberi makan. Ia ingin meminta bantuan kepada istrinya, namun ia tidak mengetahui yang mana istrinya di antara ke tujuh bidadari tersebut. Karena tidak kuat lagi menahan rasa lapar, ia pun menangis tersedu-sedu. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki tua datang menghampirinya.
“Hai, anak manusia! Apa yang engkau risaukan, sehingga bersedih begitu?” tanya lelaki itu.
Lahilote pun menceritakan asal usul dan kerisauan hatinya kepada lelaki tua itu.
“Tenanglah, Anak Muda! Pergilah menemui mereka! Perhatikanlah siapa di antara mereka yang dihinggapi kunang-kunang di antara garis keningnya, maka itulah istrimu,” ujar lelaki tua itu seraya menghilang entah ke mana.
Dengan petunjuk itu, Lahilote kembali menemui ketujuh bidadari itu. Begitu bertemu dan melihat salah seorang di antara mereka dihinggapi seekorang kunang-kunang, ia segera memeluknya dengan erat.  
“Istriku, Kanda sangat merindukanmu,” ucap Lahilote sambil meneteskan air mata.
“Tidak! Aku bukanlah istrimu,” sanggah putri itu sambil meronta-ronta.
Sebenarnya putri itu tidak lain adalah Boilode Hulawa. Namun, ia berusaha mengelak dan menghindari Lahilote, karena teringat penderitaannya ketika ia berada di bumi. Akhirnya ia mengalah setelah Lahilote mendesaknya dan tidak mau melepaskan pelukannya. Meski demikian, ia tidak mau menerimanya begitu saja. Lahilote harus memenuhi beberapa persyaratan jika Lahilote masih ingin memperistrinya. Persyaratan pertama, Lahilote harus menebang sebuah pohon besar dengan menggunakan pisau kecil.
“Bagaimana mungkin sebilah pisau kecil dapat menebang sebuah pohon besar?” pikirnya dengan bingung.  
Di tengah kebingungannya, tiba-tiba seekor burung belatuk datang menghampiri dan memberinya pertolongan. Burung belatuk itu bersama kawanannya segera mematuk batang pohon itu hingga tumbang. Setelah itu, Lahilota segera melaksanakan persyaratan berikutnya, yaitu mengangkat kayu besar itu ke suatu tempat tanpa meninggalkan setangkai dan sehelai pun daunnya. Lahilote pun berhasil melaksanakan syarat itu atas bantuan seekor ular besar. Demikian seterusnya Lahilote selalu mendapat pertolongan sampai berhasil memenuhi semua persyaratan Boilode Hulawa.
Boilode Hulawa pun menepati janjinya, yakni bersedia menjalin hubungan suami-istri dengan Lahilote. Sejak itu, Lahilote tinggal di Negeri Kahyangan dan diperlakukan layaknya seorang pangeran. Mereka hidup rukun, damai, dan bahagia. Namun, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama karena ditemukannya uban di kepala Lahilote. Menurut adat yang berlaku, tak seorang pun penghuni Kahyangan yang boleh beruban, karena hal itu pertanda ketuaan. Penduduk Kahyangan harus menjalani kehidupan abadi dan tetap awet muda.  Hal itulah yang membuat Boilode Hulawa menjadi cemas.
“Kanda! Kita harus merahasiakan hal ini. Jika salah seorang penghuni negeri ini mengetahui ada uban di kepala Kanda, maka celakalah kita. Kita akan diusir dari negeri ini,” ujar Boilde Hulawa.
“Bagaimana kalau uban Kanda kita bakar saja, Dinda?” usul Lahilote.
“Jangan, Kanda! Itu akan lebih berbahaya, karena keluarga Dinda akan mencium bau rambut terbakar yang sangat menyengat,” kata Lahilote.
Mereka pun bingung harus berbuat apa. Setelah berpikir keras, tidak ada jalan lain yang harus mereka tempuh kecuali kembali ke bumi. Ketika tiba di pintu langit, mereka sudah tidak mendapati pohon Hutia Mala yang dulu digunakan oleh Lahilote. Pohon Hutia Mala sudah lapuk dimakan tikus, karena kucing yang menjaganya sudah pergi akibat kehabisan makanan.
“Waduh, Dinda! Bagaimana caranya Kanda bisa turun ke bumi? Pohon Hutia Mala itu sudah tidak ada lagi, sedangkan Kanda tidak mempunyai sayap seperti Dinda,” tanya Lahilote dengan bingung
Sejenak Boilode Hulawa terdiam. Setelah berpikir keras, ia pun menemukan sebuah cara, yaitu dengan menjadikan rambutnya sebagai jalan bagi Lahilote untuk sampai ke bumi. Satu persatu Boilode mulai mencabut rambutnya lalu menyambungnya. Setelah itu, ia menyuruh Lahilote berpegangan dan bergelantungan pada ujung rambut itu. Boilode telah mencabut seluruh rambut di kepalanya hingga menjadi gundul, namun Lahilote belum juga sampai ke bumi. Akhirnya, Lahilote melayang-layang di antara langit dan bumi. Tubuhnya terhempas ke seluruh penjuru arah karena tertiup angin.
Dalam keadaan demikian, tiba-tiba cuaca berubah. Langit menjadi mendung, angin topan bertiup kencang disertai hujan deras. Selang beberapa saat kemudian. tiba-tiba petir datang menyambar tubuh Lahilote hingga terbelah menjadi dua. Tak ayal lagi, ia pun jatuh ke bumi dalam posisi berdiri. Tubuhnya bagian kiri terhempas di Pulau Boalemo, Sulawesi Tengah, sedangkan tubuhnya bagian kanan terhempas di Pantai Pohe, Gorontalo, yang ditandai dengan adanya telapak kaki kanan di atas sebuah batu. Oleh masyarakat setempat batu itu diberi nama Botu Liodu Lei Lahilote.

Malin Kundang

Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga itu mempunyai seorang anak yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keluarga mereka sangat memprihatinkan, maka ayah malin memutuskan untuk pergi ke negeri seberang.

Besar harapan malin dan ibunya, suatu hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat untuk membeli keperluan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan lamanya ternyata ayah malin tidak kunjung datang, dan akhirnya pupuslah harapan Malin Kundang dan ibunya.
Setelah Malin Kundang beranjak dewasa, ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal dagang di kampung halamannya yang sudah sukses.
Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Malin belajar dengan tekun tentang perkapalan pada teman-temannya yang lebih berpengalaman, dan akhirnya dia sangat mahir dalam hal perkapalan.
Banyak pulau sudah dikunjunginya, sampai dengan suatu hari di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. 

Tetapi Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. "Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. "Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya. 
Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.(ceritaanak.org)

Istana Bunga

Dahulu kala, hiduplah raja dan ratu yang kejam. Keduanya suka berfoya-foya dan menindas rakyat miskin. Raja dan Ratu ini mempunyai putra dan putri yang baik hati. Sifat mereka sangat berbeda dengan kedua orangtua mereka itu. Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna selalu menolong rakyat yang kesusahan. Keduanya suka menolong rakyatnya yang memerlukan bantuan.
Suatu hari, Pangeran Aji Lesmana marah pada ayah bundanya,  "Ayah dan Ibu jahat. Mengapa menyusahkan orang miskin?!"
Raja dan Ratu sangat marah mendengar perkataan putra mereka itu.
"Jangan mengatur orangtua! Karena kau telah berbuat salah, aku akan menghukummu. Pergilah dari istana ini!" usir Raja.
Pangeran Aji Lesmana tidak terkejut. Justru Puteri Rauna yang tersentak, lalu menangis memohon kepada ayah bundamya, "Jangan, usir Kakak! Jika Kakak harus pergi, saya pun pergi!"

Raja dan Ratu sedang naik pitam. Mereka membiarkan Puteri Rauna pergi mengikuti kakaknya. Mereka mengembara. Menyamar menjadi orang biasa. Mengubah nama menjadi Kusmantoro dan Kusmantari. Mereka pun mencari guru untuk mendapat ilmu. Mereka ingin menggunakan ilmu itu untuk menyadarkan kedua orangtua mereka.

Keduanya sampai di sebuah gubug. Rumah itu dihuni oleh seorang kakek yang sudah sangat tua. Kakek sakti itu dulu pernah menjadi guru kakek mereka. Mereka mencoba mengetuk pintu.
"Silakan masuk, Anak Muda," sambut kakek renta yang sudah tahu kalau mereka adalah cucu-cucu bekas muridnya. Namun kakek itu sengaja pura-pura tak tahu. Kusmantoro mengutarakan maksudnya,  "Kami, kakak beradik yatim piatu. Kami ingin berguru pada Panembahan."
Kakek sakti bernama Panembahan Manraba itu tersenyum mendengar kebohongan Kusmantoro. Namun karena kebijakannya, Panembahan Manraba menerima keduanya menjadi muridnya.
Panembahan Manraba menurunkan ilmu-ilmu kerohanian dan kanuragan pada Kusmantoro dan Kusmantari. Keduanya ternyata cukup berbakat. Dengan cepat mereka menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan. Berbulan-bulan mereka digembleng guru bijaksana dan sakti itu.

Suatu malam Panembahan memanggil mereka berdua. "Anakku, Kusmantoro dan Kusmantari. Untuk sementara sudah cukup kalian berguru di sini. Ilmu-ilmu lainnya akan kuberikan setelah kalian melaksanakan satu amalan."
"Amalan apa itu, Panembahan?" tanya Kusmantari.
"Besok pagi-pagi sekali, petiklah dua kuntum melati di samping kanan gubug ini. Lalu berangkatlah menuju istana di sebelah Barat desa ini. Berikan dua kuntum bunga melati itu kepada Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna. Mereka ingin menyadarkan Raja dan Ratu, kedua orang tua mereka."

Kusmantoro dan Kusmantari terkejut. Namun keterkejutan mereka disimpan rapat-rapat. Mereka tak ingin penyamaran mereka terbuka.
"Dua kuntum melati itu berkhasiat menyadarkan Raja dan Ratu dari perbuatan buruk mereka. Namun syaratnya, dua kuntum melati itu hanya berkhasiat jika disertai kejujuran hati," pesan Panembahan Manraba.

Ketika menjelang tidur malam, Kusmantoro dan Kusmantari resah. Keduanya memikirkan pesan Panembahan. Apakah mereka harus berterus terang kalau mereka adalah Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna? Jika tidak berterus terang, berarti mereka berbohong, tidak jujur. Padahal kuntum melati hanya berkhasiat bila disertai dengan kejujuran.

Akhirnya, pagi-pagi sekali mereka menghadap Panembahan.
"Kami berdua mohon maaf, Panembahan. Kami bersalah karena tidak jujur kepada Panembahan selama ini."
Saya mengerti, Anak-anakku. Saya sudah tahu kalian berdua adalah Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna. Pulanglah. Ayah Bundamu menunggu di istana."

Setelah mohon pamit dan doa restu, Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna berangkat menuju ke istana. Setibanya di istana, ternyata Ayah Bunda mereka sedang sakit. Mereka segera memeluk kedua orang tua mereka yang berbaring lemah itu.
Puteri Rauna lalu meracik dua kuntum melati pemberian Panembahan. Kemudian diberikan pada ayah ibu mereka. Ajaib! Seketika sembuhlah Raja dan Ratu. Sifat mereka pun berubah. Pangeran dan Puteri Rauna sangat bahagia. Mereka meminta bibit melati ajaib itu pada Panembahan. Dan menanamnya di taman mereka. Sehingga istana mereka dikenal dengan nama Istana Bunga. Istana yang dipenuhi kelembutan hati dan kebahagiaan. (ceritaanak.org)